PERPUSTAKAAN SEBAGAI PUSAT SUMBER
BELAJAR
Tanggal: Tuesday, 11 September 2007
Topik: Umum
PENGANTAR
Naskah berikut ini tidak
dimaksudkan sebagai makalah akademik mengenai perpustkaan, melainkan lebih
sebagai suatu pusat pembelajaran (learning center). Dalam naskah ini
tidak dibahas organisasi dan fungsi perpustakaan yang bersifat khusus, seperti
perpustakaan yang melekat tanpa penyelenggaraan berbagai jenjang pendidikan,
perpustakaan nasional, perpustakaan wilayah, perpustakaan umum, perpustakaan
asosiasi profesional dan perpustakaan yang bersifat spesifik lainnya. Perhatian
lebih ditujukan pada kemungkinan penyelenggaraan perpustakaan di berbagai
daerah pemukiman, terutama yang warganya sangat membutuhkan sarana dan sumber
belajar, bukan saja untuk berusaha meningkatkan taraf kecerdasannya, melainkan
juga untuk memperbaiki mutu perikehidupannya.
di samping itu untuk menggalakkan agar masyarakat gemar membaca, ya membaca apa
saja yang penting dapat meningkatkan pengetahuannya.
BAHASAN
Banyak kawasan yang sangat
memerlukan dukungan perpustakaan untuk memperbaiki kualitas hidup warganya.
Untuk keperluan itu tidak cukup hanya tersedia sekolah-sekolah yang menampung
anak-anak usia sekolah, melainkan diperlukan juga tersedianya bahan pustaka
yang efektif sebagai sumber belajar bagi populasinya yang tidak (lagi)
bersekolah dan sebagai orang dewasa telah menjadi andalah pencari nafkah bagi
keluarganya. Kita semua maklum bahwa ketertinggalan suatu masyarakat terutama
disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu: ketidaktahuan, kemiskinan, dan
penyakit (ignorence, poverty and disease). Ketiga faktor berkaitan erat satu
sama lain, dan dalam usaha untuk menaggulanginya biasanya diutamakan berbagai
ikhtiar yang ditujukan pada teratasinya faktor ignorasi, seperti antara lain
program pemberantasan butahuruf, disusul dengan penyelenggaraan sekolah-sekolah
dan kursus-kursus. Berbagai ikhtiar tersebut ditujukan pada meningkatnya
penguasaan pengetahuan dan keterampilan warga masyarakat ybs; singkatnya, tindakan
untuk mengatasi ketertinggalan sesuatu masyarakat biasanya dimulai dengan
ikhtiar untuk meningkatkan kecerdasannya. Dengan meningkatnya kecerdasan
masyarakat maka meluas pula cakrawala pandangan masyarakat yang bersangkutan.
Perpustakaan merupakan salah satu di
antara sarana dan sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan
melalui beraneka bacaan. Berbeda dengan pengetahuan dan keterampilan yang
dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan
pustaka yang secara individual dapat digumuli oleh peminatnya masing-masing.
Tersedianya beraneka bahan pustaka memungkinkan tiap orang memilih apa yang
sesuai dengan minat dan kepentingannya, dan kalau warga masyarakat itu
masing-masing menambah pengetahuannya melalui pustaka pilihannya, maka akhirnya
merata pula peningkatan taraf kecerdasan masyarakat itu. Kalau kita sepakat
bahwa perbaikan mutu perikehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh
meningkatnya taraf kecerdasan warganya, maka kehadiran perpustakaan dalam suatu
lingkungan kemasyarakatan niscaya turut berpengaruh terhadap teratasinya
kondisi ketertinggalan masyarakat yang bersangkutan.
Kiranya tidak perlu diperbincangkan
lagi bahwa ‘baca-tulis-hitung’ itu merupakan kemampuan dasar yang menjadi
andalan bagi upaya peningkatan kecerdasan manusia. Bahkan lebih dari hanya
meningkatkan kecerdasannya, kemampuan dasar t ersebut merupakan pendukung utama
bagi perkembangan peradaban manusia. Sejarah mencatat, betapa peradaban manusia
cenderung menjulang tatkala mendapat dukungan dari perkembangan tiga kemampuan
dasar itu manusia memperluas cakrawala wawasannya dan seiring dengan itu juga
semakin kaya dengan berbagai ikhtiar untu meningkatkan mutu perikehidupannya.
Sejarah peradaban pun telah
membuktikan betapa besar pengaruh perubahan penguasaan ketiga kemampuan dasar
itu terhadap perkembangan prestasi kecerdasan masyarakat yang bersangkutan.
Daya ciptanya pun makin mencuat melalui penemuan hal-ihwal ‘baru’ yang
selanjutnya berdampak terhadap peningkatan mutu perikehidupan warga masyarakat
itu. Demikianlah yang dapat kita saksikan manakala dalam suatu masyarakat
terjadi peralihan dari tradisi lisan ke tradisi tulisan. Tradisi lisan
sebagaimana terjadi dalam pengalihan dongeng, legenda, mitos, dan sebagainya
dari satu generasi ke generasi tentu mengalami perubahan, bahkan mungkin
perubahan yang distortif, karena bagaimanapun juga sesuatu periwayatan yang
pengalihannya berlangsung dari mulut ke mulut tidak senantiasa terjamin sesuai
dengan aslinya.
Lain halnya dengan periwayatan yang diteruskan
sebagai tulisan dan dialihkan sebagai bacaan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Bahan bacaan demikian itu merupakan rekaman yang jauh lebih
menjamin dapat dipertahankanya keaslian muatanny. Tentu saja tulisan dan bahan
bacaan juga bisa mengalami perubahan dalam perjalanan sejarah; sesuatu naskah
yang ditulis berdasarkan tradisi lisan bisa saja mengalami perubahan, apalagi
kalau suatu periwayatan kemudian ditulis oleh beberapa orang penulis, sehingga
terdapat beberapa varian atau versi mengenai ihwal yang diriwayatkan. Namun
sekali naskah tertulis itu menemukan wujudnya, maka menetaplah jejaknya,
terkecuali kalau rusak dimakan zaman.
Demikian pula halnya dengan
agama-agama yang tergolong sebagai ‘ahli kitab’, yang sama artinya ‘keluarga
atau kelompok yang memiliki kitab’, d.h.i. kitab suci. Sulit dibayangkan
bagaimana sesuatu ajaran agama dapat dilanjutkan antar generasi tanpa
pelestarian melalui kitab sucinya, melainkan sekedar diandalkan pada periwayatan
lisan dari satu generasi penganutnya kepada generasi berikutnya. Tentu saja
tulisan sebagai jejak yang ditinggalkan manusia dalam perjalanan waktu bisa
berubah atau diubah. Akan tetapi dalam pengalihan antar generasi sebab musabab
terjadinya perubahan pada rekaman berupa tulisan tentu berbeda dengan perubahan
yang terjadi karena pengalihan penuturan secara lisan. Studi-studi folklore dan
fiologi dapat lebih memperjelas faktor-faktor yang berpengaruh pada terjadinya
perubahan-perubahan termaksud.
Menarik sekali bahwa dalam bahasa
Arab, kata benda kitab yang berarti buku, bertaut erat dengan kata kerja kataba
yang artinya menulis. Maka buku yang bermuatan bacaan hanya mungkin terwujud
jika ada yang menuliskan bahannya. Demikianlah kemampuan membaca dan menulis
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kemampuan ini bukan saja meliputi
pengenalan huruf sebagai elemen untuk menyusun kata dan selanjutnya kata
menjadi komponen untuk pembentukan kalimat, melainkan juga pengenalan angka
sebagai lambang yang berkaitan dengan kemungkinan untuk melakukan kuantifikasi.
Maka kemampuan ‘baca-tulis-hitung’ (yang dalam lingkungan pendidikan di sekolah
terkenal sebagai the 3-RS, yaitu Reading, Writing, aRithmetic) sesungguhnya
merupakan satu kemasan kemampuan yang selalu diajarkan pada anak sejak dini,
karena penguasaan tiga kemampuan dasar itulah yang menjadi landasan bagi
pengembangan pengetahuan selanjutnya.
Dalam perjalanan sejarah peradaban
manusia dapat ditunjuk beberapa momen puncak yang dianggap sangat berpengaruh
terhadap peri kehidupan manusia selanjutnya. Termasuk dalam momen puncak itu
ialah ditemukannya sesuatu sistem perlambangan atau abjad untuk menuliskan
segala ihwal yang dianggap perlu untuk dilestarikan agar selanjutnya dapat
disajikan kepada khalayak pembaca (reading audience). Momen puncak lainnya
ialah tatkala ditemukan teknik cetak serta penjilidan yang memungkinkan terbit
dan beredarnya bacaan berupa buku. Sejak munculnya buku sebagainya himpunan
tulisan yang bisa diperbanyak jumlahnya dan dapat diedarkan dalam lingkungan
khalayak pembaca yang kian meluas, maka meningkat pula laju proses pencerdasan
dalam masyarakat yang bersangkutan. Oleh peredaran buku masyarakat yang
bersangkutan dimungkinkan untuk menimba himpunan informasi perihal apa saja yang
tidak diketahui sebelumnya. Buku sebagai sumber informasi menjadikan seseorang
tidak lagi tergantung pada penuturan seseorang secara lisan. Oleh makin
banyaknya buku yang terbit dan beredar dalam suatu masyarakat, maka timbullah
keperluan untuk penyimpanannya dalam sistem yang berbentuk perpustakaan.
Kehadiran perpustakaan merupakan tuntutan mutlak bagi tiap masyarakat yang
ingin menjadikan warganya bukan saja kaya informasi (well informed) dan
terdidik baik (well educated), melainkan makin bertambah kecanggihan wawasannya
(sophisticated).
Untuk berdampak sedemikian itu
perpustakaan harus menyediakan bahan bacaan yang dapat menjadi sumber informasi
dan pengetahuan bagi khalayak pembaca dalam kawasannya. Perpustakaan tentu
bukan saja merupakan ‘penggudangan buku’, melainkan menjadi tempat penyimpanan
informasi, edukasi dan rekreasi. Ketiga kebutuhan ini dapat dilayani oleh
perpustakaan yang menyesuaikan koleksinya dengan minat khalayak pembaca dalam
kawasannya. Perpustakaan suatu jenjang pendidikan (school library, university
library) tentu menyediakan buku dan bahan bacaan yang berbeda dengan apa yang
disimpan oleh perpustakaan umum (public library); demikian juga perpustakaan
suatu wilayah (provincial library) menyediakan bahan pustaka yang berbeda
dengan apa yang tersedia dalam perpustakaan pedesaan (country library).
Pendeknya, perpustakaan sebaiknya dirancang sesuai dengan minat dan kepentingan
khalayak dalam kawasannya.
Keanekaan ciri daerha-daerah
pemukiman di Indonesia denan sendirinya perlu diperhatikan dalam persebaran
perpustakaan; masyarakat perkotaan tentu berbeda minatnya dengan masyarakat
pedesaan, masyarakat desa pegunungan tentu berbeda perhatian dan minatnya
dengan masyarakat desa pantai, dan begitu seterusnya. Maka manfaaat kehadiran
perpustakaan dalam suatu daerah hunian perlu memperhatikan apa yang ingin
diperoleh khalayak pembacanya sebagai sumber informasi, edukasi dan rekerasi.
Dengan demikian perpustakaan akan tetap memiliki daya tarik untuk dikunjungi,
dan dengan ramainya kunjungan ke perpustakaan itu berkembang pula dalam
masyarakat yang bersangkutan sikap positif terhadap buku. Kehadiran
perpustakaan bukan saja berrjasa dalam menumbuhkan minat baca melainkan juga
cinta buku.
Maka adanya prakarsa untuk
menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang perlunya kehadiran perpustkaan dalam
kawasannya. Banyaknkya kawasan hunian baru yang dibangun oleh para pengembang
tidak selalu disertai pengadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum. Jangankan
di daerah hunian yang sederhana, di kawasan yang tergolong mewah pun
perpustakaan sebagai fasilitas umum cenderung dilupakan penyediaannya. Jauh
lebih ditonjolkan sebagai keistimewaan adalah adanya shopping mall dan berbagai
fasilitas rekreasi ketimbang adanya perpustakaan yang bisa melayai minat para
penghuninya.
Dalam hubungan ini perlu disusun
perencanaan yang menetapkan mana kawasan pemukiman yang perlu diprioritaskan
untuk pembangunan perpustakaan, misalnya kawasan yang penduduknya kurang mampu
untuk menyediakan sendiri perpustakaan bagi warganya, seperti masyarakat di
kota kecil atau daerah pedesaan. Untuk beberapa kawasan juga dapat
dipertimbangkan sejauh mana efektifnya penyelenggaraan perpustakaan keliling
(mobile library) yang secara berkala berkunjung ke kawasan pemukiman tertentu.
Bahkan pada awal tahun 1990-an pernah dibahas gagasan untuk menyelenggarakan
perpustakaan terapung (floating library) untuk berfungsi sebagai perpustakaan
keliling di daerah kepulauan (seperti di kepulauan Riau dan Maluku) serta
sepanjang sungai-sungai jalur lalulintas angkutan (seperti di Kalimantan).
Tentu saja berbagai kemungkinan
tersebut sebaiknya didahului dengan mempelajari apa yang menjadi minat dan
kepentingan masyarakat setempat, terutama yang berkenaan dengan usaha
peningkatan kualitas kehidupan warganya. Dalam kaitan ini perlu diperhatikan
pula penyediaan bahan pustaka yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan
warga masyarakat yang bersangkutan, teruatama buku-buku yang merupakan panduan
‘kerjakan sendiri’ (do it your self). Lebih baik lagi kalau buku panduan
demikian itu dipulih sesuai dengan kepentingan warga masyarakat setempat untuk
melakukan usaha yang dapat menambah sumber penghasilan (income generating) atau
dapat membuka lapangan kerja (employment generating).
Selain buku-buku panduan ‘kerjakan
sendiri’, tidak kalah pentingnya ialah buku-buku yang bersifat informatif dan
edukatif mengenai kesehatan, kebersihan lingkungan hidup, bahaya pencemaran
lingkungan, dan bahan bacaan lain yang bisa berdampak positif bagi terjadinya
perubahan sikap dan perilaku warga masyarakat yang bersangkutan terhadap
berbagai permasalahan aktual.
Perlu dicatat, bahwa perpustakaan
masakini tidak hanya memiliki koleksi buku-buku, melainkan juga berupa
perangkat untuk penyajian bahan melalui CD, VCD, CD-ROM, dan sebagainya sejalan
dengan perkembangan teknologi informasi. Demikian juga koleksi rekaman film
tentang flora dan fauna, dokumentasi sejarah, kelautan, kehutanan, dan
sebagainya. Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi, perpustakaan juga bisa
berfungsi lebih dari sekedar tempat simpan pinjam bahan pustaka ditambah ruang
baca belaka. Perpustakaan modern mestinya bisa berfungsi bagi penyelenggaraan
berbagai forum penerangan dan pembahasan tentang masalah-masalah aktual, antara
lain melalui penyelenggaraan diskusi panel, seminar, simposium, lokakarya, dan
sebagainya. Perpustakaan juga dapat menyelenggarakan acara pameran buku,
pemutaran film, perkenalan dengan pengarang dan sastrawan nasional maupun
lokal. Melalui berbagai forum pembahasan itu niscaya dapat didorong perkembangan
berbagai pemikiran mengenai masalah-masalah aktual yang diahadapi oleh
masyarakat yang bersangkutan.
Kemungkinan swakelola perpustakaan
oleh masyarakatnya sendiri perlu dipertimbangkan, agar kehadiran dan fungsinya
tidak terus-menerus diandalkan pada dukungan sumber daya dari luar, misalnya
dari kalangan bisnis dan industri. Namun demikian, dukungan tersebut sebaiknya
ditujukan pada tumbuhnya kesanggupan swakelola perpustakaan oleh masyarakat
yang bersangkutan. Kecenderungan untuk menggantungkan eksistensi perpustakaan
pada dukungan dari luar masyarakatnya perlu diubah dengan menyadarkan
masyarakat yang bersangkutan untukpada suatu saat sanggup secara mandiri
mengelola dan mempertahankan kehadiran perpustakaannya demi peningkatan
kecerdasan serta mutu perikehidupan warganya. Swakelola perpustakaan bisa
menjadi nyata apabila masyarakat yang bersangkutan menyadari betapa
perpustakaan dapat menjadi sumber belajar dan pada gilirannya berperan sebagai
agen perubahan bagi segenap warganya.
Maka perlu dipikirkan berbagai cara
agar perpustakaan dapat dihadirkan di berbagai cara agar perpustakaan dapat
dihadirkan di berbagai kawasan pemukiman, terutama yang relatif tertinggal
kondisi peri kehidupan dan taraf kesejahteraan. Para pemuka masyarakat yang
bersangkutan dapat berusaha menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri
yang adakalanya menyisihkan sejumlah dana bagi pengembangan komunitas
(community development). Bahan pustaka juga bisa diperoleh melalui kampanye
pengumpulan sumbangan buku dan majalah dari perorangan maupun lembaga swadaya
masyarakat. Tidak tertutup kemungkinan tersedianya bahan pustaka dan
dokumentasai yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi, terutama bahan
bacaan yang bersifat penyuluhan. Dalam kerjasama dengan sekolah-sekolah dapat juga
diusahakan pembuatan clipping dari media cetak oleh para pelajar sebagai
pekerjaan rumah atau kegiatan ekstra kurikuler yang kemudian diteruskan sebagai
sumbangan bahan bacaan di perpustakaan pedesaan.
Pendeknya, banyak cara untuk
berusaha menghimpun bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan oleh perputakaan
pedesaan dan berbagai daerah hunian yang oleh satu dan lain sebab agak
terbelakang pendidikannuya. Kehadiran perpustakaan di kawasan demikian itu
niscaya besar dampaknya yang bersifat edukatif. Dengan prakarsa tersebut makin
meningkatlah perebaran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan sekaligus
efektif berperan sebagai agen perubahan, terutama di kawasan pemukiman yang
relatif tertinggal dalam usaha peningkatan kecerdasan serta perbaikan perikehidupan
warganya.
sumber naskah : Hasan Fuad