TOKOH – TOKOH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Islam tak lepas dari para tokoh agamanya yang menyebarkan maupun
mengembangkan pendidikan islam di dunia ini, dan di Negara kita sendiri
terdapat beberapa tokoh penddikan islam yang jasanya sangat besar dalam
perkembangan pendidikan islam
Di Indonesia selain banyak makam para Wali Sanga yang menyebarkan
agama islam juga terdapat tokoh tokoh pendidikan yang asli dari bumi
pertiwi ini.
PEMBAHASAN
A. Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Indonesia
Disini berbeda pendapat tentang permulaan Islam di Indonesia antara
lain: Bahwa kedatangan Islam pertama di Indonesia tidak identik dengan
berdirinya kerajaan Isalam pertama di Indonesia mengingat bahwa pembawa
Islam ke Indonesia adalah para pedagang, bukan missi tentara dan bukan
pelarian politik. Mereka tidak ambisi langsung mendirikan kerajaan
Islam. Lagi pula di Indonesia pada zaman itu sudah ada kerajaan-kerajaan
Hindu, Budha yang banyak jumlahnya dan berkekuatan besar. Jadi masa
tenggang antara kedatangan orang Islam pertama di Indonesia dengan
berdirinya kerajaan Islam pertama adalah sangat lama.
Nah disini timbul pertanyaan dibenak kita. Orang Islam dimanakah yang
pertama dating dan berdakwah Islam di Indonesia, dan pada abad berapa?
Ada beberapa teori untuk menjawab pertanyaan tersebut, antara lain sebagai berikut:
- yang dating pertama kaili ialah myballig dari Persi (Iran) pada pertengahan abad 12 Masehi. Alasanya karena kerajaan Islam pertama di Indonesia bernama Pase (Pasai) berasal dari Persi. Ditambah dengan kenyataan bahwa orang Islam Indonesia sangat hormat dengan keturunan Sayid atau Habib yaitu keturunan Hasan dan Husen putra Ali Bin Abi Tholib.
- Yang dating pertama kali ialah Muballig dari India barat tanah Gujarat. Alasanya karena ada persamaan bentuk nisan dan gelar nama dari Muballig yang oleh Belanda dianggap sebagai kuburan orang-orang Islam yang pertama di Indonesia.
Adapun hasil seminar yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1936
mengenai masuknya agama Islam di Indonesia menyimpulkan sebagai berikut:
- Menurut sumebr bukti yang terbaru, Islam pertama kali dating di Indonesia pada abad ke VII M/1 H di bawa oleh pedagang dan muballig dari negeri Arab.
- Daerah yang pertama di masuki ialah pantai barat pulau Sumatra yaitu di daerah Baros, tempat kelahiran ulama besar bernama Hamzah Fansyuri. Adapun kerajaan Islam yang pertama ialah di Pase.
- Dalam proses pengislaman selanjutnya orang-orang Islam bangsa Indonesia ikut aktif mengambil bagian yang berperan, dan proses itu berjalan secara damai.
- Kedatangan islam di Indonesia ikut mencerdaskan rakyat dan membina karakter bangsa. Karakter tersebut dapat di buktikan pada perlawanan rakyat melawan penjajahan bangsa asing dan daya tahannya mempertahankan karakter tesebut selama dalam zaman penjajahan barat dalam waktu 350 Tahun.
B. Periode Pada Zaman Belanda
Pada tahun 1905 pemerintah Belanda mengeluarkan satu peraturan yang
mengharuskan para guru agama memiliki izin khusus untuk mengajar. Banyak
sikap mereka yang sangat merugikan lajunya perkembangan pendidikan
agama di Indonesia, misalnya
- Setiap sekolah atau Madrasah harus memiliki izin dari bupati/pejabat pemerintahan belanda
- Harus ada penjelasan dari sifat pendidikan yang sedang dijalankan secara terperinci
- Para guru harus membuat daftar murid dalam bentuk tertentu dan mengirimkanya secara periodic kepada daerah yang bersangkutan.
Atas dasar perjuangan dari organisasi Islam, melalui konggres
Al-Islam pada tahun 1926 di Bogor, peraturan tentang penyelenggaraan
pendidikan islam yang di buat oleh pihak Belanda pada tahun 1905
dihapuskan dan diganti dengan peraturan yang baru yang terkenal dengan
sebutan Ordonansi Guru. Menurut peraturan baru ini, izin Bupati tidak
lagi diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan Islam. Guru agama
cukup memberitahukan pada pejabat yang bersangkutan tentang maksud
mengajar. Disamping itu, guru juga disuruh mengisi formulir yang telah
disediakan oleh pejabat pemerintahan Belanda yang isinya berupa
persoalan berupa murid dan kurikulum
Di sekolah-sekolah Umum secara resmi belum diberikan pendidikan
agama. Hanya di fakultas-fakultas hokum telah ada matakuliah Ismologi,
yang dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengetahui hokum-hukum dalam
Islam. Sedangkan dosen-dosen yang memberikan matakuliah Ismologi
tersebut pada umumnya bukan orang Islam dengan menggunakan buku-buku
atau literature yang dikarang oleh para orentalis.
C. Periode Pada Zaman Jepang
Keadaan agak berubah, karena ada kemajuan dalam pelaksanaan
pendidikan agama di sekolah-sekolah Umum. Hal ini disebabkan karena
mereka mengetahui bahwa sebagian besar bangsa Indonesia adalah pemeluk
agama Islam, maka untuk menarik simpati dari pemeluk agama Islam maka
Jepang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan agama
Islam.
Terlebih lagi pada awalnya, pemerintah Jepang menampakan diri
seakan-akan membela kepentingan Islam yang merupakan siasat untuk
kepentingan perang Dunia II. Masalahnya Jepang tidak begitu menghiraukan
kepentingan agama. Untuk mendekati umat Islam Jepang menempuh beberapa
kebijakan diantaranya pada jaman Jepang dibentuknya KUA, didirikanya
Masyumi dan pembentukan Hisbullah.
Pada masa pendudukan Jepang, ada satu hal istimewa dalam dunia
pendidikan, yaitu sekolah-sekolah telah di selenggarakan dan dinegerikan
meskipun sekolah-sekolah suasta lain seperti Muhammadiyah, Taman Siswa
dan lain-lain diiziankan terus berkembang dengan pengaturan dan
diselenggarakan oleh penduduk Jepang.
Di Sumatra, organisasi-organisasi Islam menggabungkan diri dalam
majelis Islam tinggi. Kemudian majelis tersebut mengajukan usul kepada
pemerintah Jepang, agar di sekolah-kolah pemerintah diberikan pendidikan
agama sejak sekolah rakyat tiga tahun dan ternyata usul tersebut
disetujui dengan syarat tidak diberikan anggaran biaya untuk guru-guru
agama.
Mulai saat itu maka pendidikan agama secara resmi boleh diberikan di
sekolah-kolah pemerintah, namun hal ini hanya berlaku di pulau Sumatra
saja. Sedangkan di daerah-daerah lain masih belum ada pendidikan agama
di sekolah-sekolah pemerintah, yang ada hanya pendidikan budi pekerti
yang didasarkan atau bersumber pada agama juga.
D. Pendidikan Islam Pada Masa Orde Baru
Kalau dirujuk kebelakang, memang sejak tahun 1966 terjadi perubahan
besar pada bangsa Indonesia baik itu menyangkut kehidupan sosial agama
maupun politik. Pada Orde Baru tekad yang di embank yaitu kembali pada
UUD 1945 dan melaksanakannya secara murni dan konsekwen sehingga
pendidikan agama memperoleh tempat yang kuat dalam struktur
pemerintahan.
Pada masa Orde Baru pendidikan Islam dikembangkan masih dalam batas
pemahaman dan pengembangan pengetahuan saja, baru setelah masuk pada
abad 21 maka pendidikan Islam lebih difokuskan pada penerapan atau
aktualisasi dari ilmu pengetahuan dan selalu didasrkan oleh keimanan dan
ketakwaan. Hal ini sesuai dengan beberapa strategi yang diterapkan di
sekolah-sekolah guna peningkatan kualitas peserta didiknya baik dari
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai landasan menuju
pembaharuan masyarakat islam yang maju.
Pada masa itu juga banyak jalan-jalan yang ditempuh untuk
menyetarakan antara pendidikan agama dan pendidikan Umum. Hal ini bias
dilihat dari surat keputusan bersama (SKB) 2 mentri tentang sekolah Umum
dan Agama. Dengan adanya SKB tersebut, maka anak-anak yang sekolah
agama bias melanjutkan kesekolah yang lebih tinggi. Kemudian untuk
mengikis dualisme pendidikan bias dilakukan dengan cara pengintegrasian
antara pelajaran umum dan agama, walaupun dualisme itu masalah klasik
yang tidak mudah untuk dihapus.
Tehknik pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-kolah umum mengalami
perubahan-perubahan tertentu sehubungan dengan perkembangan cabang ilmu
pengetahuan dan perubahan system proses belajar mengajar. Pendidikan
Islam dengan pendidikan nasional semakin Nampak dalam rumusan pendidikan
nasional yaitu pendidikan nasional ialah usaha sadar untuk membangun
manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, nilai budaya, pengetahuan, keterampilan, daya estetik,
dan jasmaniany sehingga dia dapat mengembangkan dirinya dan bersama-sama
dengan sesame manusia membangun masyarakatnya serta membudidayakan alam
sekitar.
E. Tokoh-tokoh Pendidikan Islam Di Indonesia
Adapun tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia antara lain:
1) Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869-1923)
K.H Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan
nama kecilnya Muhammad Darwis, putra dari K.H Abu Bakar Bin Kyai
Sulaiman, khatib di Masjid besar (Jami’) kesultanan Yogyakarta. Ibunya
adalah putri Haji Ibrahim, seorang penghulu Setelah beliau menamatkan
pendidikan dasarnya di suatu Madrasah dalam bidang Nahwu, Fiqih dan
Tafsir di Yogyakarta beliau pergi ke Makkah pada tahun 1890 dan beliau
menuntut ilmu disana selama satu tahun. Salah seorang gurunya Syekh
Ahmad Khatib. Sekitar tahun 1903 beliau mengunjungi kembali ke Makkah
dan kemudian menetap di sana selama dua tahun
Beliau adalah seorang yang alim luas ilmu pengetahuanya dan tiada
jemu-jemunya beliau menambah ilmu dan pengalamanya. Dimana saja ada
kesempatan sambil menambah atau mencocokan ilmu yang telah diperolehnya.
Observation lembaga pernah beliau datangi untuk mencocokan tentang ilmu
hisab. Beliau ada keahlian dalam ilmu itu. Perantauanya kelauar pulau
jawa pernah sampai ke Medan. Pondok pesantren yang besar-besar di Jawa
pada waktu itu banyak dikunjungi.
Cita-cita K.H Ahmad Dahlan sebagai seorang ulama adalah tegas, beliau
hendak memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan cita-cita agama
Islam. Usaha-usahanya ditujukan hidup beragama, keyakinan beliau ialah
bahwa untuk membangun masyarakat bangsa harus terlebih dahulu dibangun
semangat bangsa. K.H Ahmad Dahlan pulang ke Rahmatullah pada Tahun 1923 M
Tanggal 23 Pebruari dalam usia 55 Tahun dengan meninggalkan sebuah
organisasi Islam yang cukup besar dan di segani karena ketegaranya.
2) K.H Hasim Asy’ari (1971-1947)
K.H Hasim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari tahun 1981 M di
Jombang Jawa Timur mula-mula beliau belajar agama Islam pada ayahnya
sendiri K.H Asy’ari kemudian beliau belajar di pondok pesantren di
Purbolinggo, kemudian pindah lagi ke Plangitan Semarang Madura dan
lain-lain.
Sewaktu beliau belajar di Siwalayan Panji (Sidoarjo) pada tahun 1891,
K.H Ya’kub yang mengajarnya tertarik pada tingkahlakunya yang baik dan
sopan santunya yang harus, sehingga ingin mengambilnya sebagai menantu,
dan akhirnyabeliau dinikahkan dengan putri kiyainya itu yang bernama
Khadijah (Tahun 1892). Tidak lama kemudian beliau pergi ke Makkah
bersama istrinya untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim selama
setahun, sedang istrinya meninggal di sana.
Pada kunjunganya yang kedua ke Makkah beliau bermukim selama delapan
tahun untuk menuntut ilmu agama Islam dan bahasa Arab. Sepulang dari
Makkah beliau membuka pesantren Tebuiring di Jombang (pada tanggal 26
Rabiul’awal tahun 1899 M)
Jasa K.H Hasim Asya’ari selain dari pada mengembangkan ilmu di pesantren
Tebuireng ialah keikutsertaanya mendirikan organisasi Nahdatul Ulama,
bahkan beliau sebagai Syekul Akbar dalam perkumpulan ulama terbesar di
Indonesia.
Sebagai ulama beliau hidup dengan tidak mengharapkan sedekah dan
belas kasihan orang. Tetapi beliu mempunyai sandaran hidup sendiri yaitu
beberapa bidang sawah, hasil peninggalanya. Beliau seorang salih
sungguh beribadah, taat dan rendah hati. Beliau tidak ingin pangkat dan
jabatan, baik di zaman Belanda atau di zaman Jepang kerap kali beliau
deberi pangkat dan jabatan, tetapi beliau menolaknya dengan bijaksana.
Banyak alumni Tebuiring yang bertebarang di seluruh Indonesia,
menjadi Kyai dan guru-guru agama yang masyhur dan ada diantra mereka
yang memegang peranan penting dalam pemerintahan Republik Indonesia,
seperti mentri agama dan lain-lain (K.H A. Wahid Hasyim, dan K.H Ilyas).
K.H Asy’ari wafat kerahmatullah pada tanggal 25 Juli 1947 M dengan
meninggalkan sebuah peninggalan yang monumental berupa pondok pesantren
Tebuiring yang tertua dan terbesar untuk kawasan jawa timur dan yang
telah mengilhami para alumninya untuk mengembangkanya di daerah-daerah
lain walaupun dengan menggunakan nama lain bagi pesantren-pesantren yang
mereka dirikan.
3) K.H Abdul Halim (1887-1962)
K.H Abdul Halim lahir di Ciberelang Majalengka pada tahun 1887.
beliau adlah pelopor gerakan pembeharuan di daerah Majalengka Jawa Barat
yang kemudian berkembang menjadi Perserikatan Ulama, dimulai pada tahun
1911. yang kemudian berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada
tanggal 5 April 1952 M. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga yang
taat beragama (ayahnya adalah seorang penghulu di Jatiwangi), sedangkan
famili-familinya tetap mempunyai hubungan yang erat secara keluarga
dengan orang-orang dari kalangan pemerintah.
K.H Abdul Halim memperoleh pelajaran agama pada masa kanak-kanak
dengan belajra diberbagai pesantren di daerah Majalengka sampai pada
umur 22 Tahun. Ketika beliau pergi ke Makkah untuk naik haji dan untuk
melanjutkan pelajaranya.
Pada umumnya K.H Abdul Halim berusaha untuk menyebarkan pemikiranya
dengan toleransi dan penuh pengertian. Dikemukakan bahwa beliau tidak
pernah mengecam golongan tradisi ataupun organisasi lain yang tidak
sepaham dengan beliau, tablignya lebih banyak merupakan anjuran untuk
menegakan etika di dalam masyarakat dan bukan merupak kritik tentang
pemikiran ataupun pendapat orang lain.
Pada tanggal 7 Mei 1962 K.H Abdul Halim pulang kerahmatullah di
Majalengka Nawa Barat dalam usia 75 Tahun dan dalam keadaan tetap teguh
berpegang pada majhab Safi’i.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar